Beranda Kotawaringin Timur Sebanyak 360 Guru di Kotim, Belum Berstatus Sarjana

Sebanyak 360 Guru di Kotim, Belum Berstatus Sarjana

0
BERBAGI
Asisten I Setda Kotim, Rihel, saat menerima kunjungan dari UMPR, Kamis (9/3/2023). FOTO : AP/JK.

JEJAKKALTENG.COM, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), melakukan audiensi dengan Rektor Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR), yang langsung di sambut oleh Asisten I Sekretariat Daerah (Setda) Kotim, Rihel, di Rumah Jabatan (Rujab) Kotim, Kamis (9/3/2023).

“Untuk hari ini kami menerima dan sangat mendukung dengan adanya program-program yang di berikan oleh UMPR Palangkaraya, terumata untuk guru-guru di Kotim sendiri,” ungkap Rihel.

Ia mengungkap, informasi terakhir dari Dinas Pendidikan (Disdik), itu ada sekirar 360 guru di Kotim masih belum sarjana, sementara itu, dalam UU No 14 Tahun 2005 Pasal 9 mengamanatkan setiap guru wajib memperoleh kualifikasi akademik minimal S1/D4.

“Kalo nanti tidak ada penyesuian artinya pendidikan, orang itu tidak akan bisa menjadi fungsional, nanti larinya ke administrasi, maka dari itu adanya 14 program yang di tawarkan oleh UMPR Palangkaraya tadi, itu nantinya akan memilih sesuai dengan kebutuhan tenaga guru maupun tenaga kesehatan,” ujarnya.

Tambahnya, berkaitan tentang perangkat desa, perlu kita ketahui bahwa di desa minim akan pendidikan, contohnya SMA, saat di tawarkan untuk mengajar di pendidikan tersebut belum tentu ada di setiap desa, maka dari itu pemda akan mendorong secara bertahap untuk guru ke desa-desa yang ada di Kotim.

“Kita nanti pastinya akan ada target dengan BKPSDM, dari 360 guru tadi kira-kirta berapa tahun kita akan menyelesaikannya, dan itu pastinya secara bertahap jika sekaligus pemda tidak akan sanggup membiayainya, karena jumlah tersebut tidaklah sedikit,” ujar Asisten I Setda Kotim.

Rihel, menambahkan, adanya sistem Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) ini akan sangat membantu terutama kepada masyarakat kepegawaian yang memiliki akses terjangkau dan blank spot di daerahnya.

“Dari adanya covid-19 saat itu, pembelajaran kita saat itu sangat terbatas, sebenarnya ini merupakan kutu loncatan dari itu, yang mana UMPR sudah melakukan transformasi, yang mana dulu mewajibkan pembelajaran reguler dan sekarang ada pembelajaran RPL. Dan tadi sudah dikatakan di daerah samuda, banyak yang ikut program ini” jelasnya.(AP-JK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here