
JEJAKKALTENG.COM, Sampit – Asisten I Bidang Pemerintahan Dan Kesejahteraan Masyarakat Setda Kotim, Rihel, membuka acara Seminar Kesehatan Dalam Rangka Hari Thalassaemia Sedunia Tahun 2023, di Gedung Penunjang Lantai II RSUD dr Murjani Sampit, Sabtu (27/5/2023).
Pada sambutan Bupati yang dibacaka Asisten I menyebut, jumlah penderita Thalassaemia di indonesia setiap tahun semakin meningkat yakni pada tahun 2019, sebanyak 10.555 kasus, dimana kasus terbanyak berada di Jawa barat, Jakarta, Jawa Tengah dan Banten, kemudian dan pada pertengahan tahun 2021 meningkat menjadi 10.973 kasus, dan diperkirakan sebanyak 2.500 bayi lahir di Indonesia dengan Thalassaemia mayor, yang mana 80% diantaranya tergolong akut, sehingga memerlukan transfusi darah.
“Untuk di Kalteng khususnya di Kabupaten Kotim, kasus Thalassaemia tergolong sedikit. Namun, bukan berarti karena kasusnya sedikit, terus kita abaikan. Hal ini, terkait dengan tumbuh kembang anak dan hak-hak anak,” tegas Rihel.
Pada kesempatan ini, Rihel juga menegaskan, bahwa anak dengan Thalassaemia harus diupayakan untuk transfusi darah, dan jangan sampai Hemoglobinnya rendah, agar anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Mereka juga mempunyai hak dan harapan untuk bisa bertumbuh dan berkembang, berkarya, berinovasi dan berprestasi.
“Perkembangan Thalassaemia, memerlukan perhatian yang serius dan dilakukan upaya pencegahan dan penanganan yang baik, agar kasusnya tidak meningkat drastis dan menjadi masalah besar di dalam keluarga,” jelasnya.
Di samping itu, lebih lanjut, dirinya berharap bersama bisa mensosialisasikan pencegahan dan penanganan di tingkat keluarga Thalassaemia. Baik itu dari Dinas Kesehatan, RSUD dr Murjani, dan Fasilitas Kesehatan lainnya, agar dapat melakukan skrining dengan baik, sehingga anak-anak pembawa sifat atau pembawa gen dari talasemia tersebut dapat ditangani dengan cepat dan baik.
“Sesuai dengan tema seminar ini, “Berdamai dengan Thalassaemia”, saya mengharapkan kepedulian semua pihak untuk saling memperhatikan dan saling berbagi, karena Thalassaemia ini bukan penyakit menular, tapi berjuang seumur hidup, di mana sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkannya. Harapan terbesar bagi penderita Thalassaemia adalah transfusi darah sebagai upaya menjaga kondisi tubuhnya untuk tetap sehat,” ungkapnya.
Dalam hal ini juga, dirinya meminta, kepada orang tua yang mempunyai anak dengan Thalassaemia, untuk selalu semangat dan setia mendampingi anaknya pada setiap tranfusi darah.
“Pesan saya untuk anak dengan talasemia jangan patah semangat, terus berjuang dan selalu bahagia, karena dengan itu semua kalian dapat menunjukkan kemampuan dan keberhasilan kalian. Kepada pengurus POPTI, berjuang terus dan lebih semangat dalam melayani anak-anak dan orang tua Thalassaemia” harapnya.(AP-JK)